Minggu, 30 November 2014

Masyarakat sekarang lebih memilih Madrasah untuk anaknya

Buletin online Fk-Pontren
Ahad, 30 November 2014
Sumber: Nu online

Jakarta, Direktur jenderal pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyatakan belakangan ini animo masyarakat untuk mengirimkan anaknya untuk belajar di madrasah semakin tinggi, hal ini bisa dilihat dari jumlah pendaftar di madrasah negeri yang membludak, jauh melebihi kapasitas kursi yang tersedia.

“Madrasah bukan lagi alternatif, tetapi telah menjadi pilihan pertama. Di beberapa madrasah, misalnya di madrasah negeri MAN Model atau Tsanawiyah Model di seluruh Indonesia itu kalau kursinya 150, pendaftarnya bisa sampai 2000.  Jadi kurang dari 10 persen yang diterima,” katanya di kantor Kemenag Lapangan Banteng, Rabu (26/11).

Tak hanya di madrasah negeri, di madrasah swasta yang masih mengalami keterbatasan infrastruktur pun saat ini trennya luar biasa kencang. Salah satu penyebabnya adalah tingkat kelulusan Ujian Nasional yang tidak kalah dengan sekolah, disisi lain mendapat materi keagamaan yang lebih baik dibanding sekolah pada umumnya.

Dukungan kuat juga diberikan pada para gubernur, bupati, dan walikota untuk mendirikan madrasah unggulan di daerahnya.

“Ini saya baru terima Kanwil Kemenag Sumatra Barat yang di-back up gubernurnya yang menyumbangkan tanahnya 10 hektar untuk dibuat MAN Insan Cendikia karena persyaratannya harus ada tanah yang disumbangkan sebesar 10 hektar ke Kementarian Agama, baru kita membangun MAN IC di disitu. Ini kan tekanannya di sains sehingga madrasah tidak kalah dengan sekolah terbaik se-Indonesia, makanya ada juara olimpiade, tanpa melupakan signifikansi pentingnya pendidikan agama,” tandasnya. 

Ia menambahkan Madrasah Keagamaan untuk mencetak calon ulama juga menjadi perhatian. “Kita ingin seluruh Indonesia juga ada representasi-representasinya, misalnya disini ada madrasah Al Azhar al Syarif yang bekerjasama dengan Univesitas Al Azhar Mesir, kurikulumnya Al Azhar, guru-gurunya juga alumni Al Azhar, pengantarnya pakai bahasa Arab. Ini yang akan direplikasi di seluruh Indonesia.” 
Penyebaran akses

Persoalan pendidikan yang menengah yang masih dihadapi adalah angka partisipasi kasar nasional yang baru mencapai 78 persen sehingga tantangan ke depan adalah bagaimana membawa anak-anak yang lulus tsanawiyah ini belajar di SMA atau Aliyah. 

“Ini tantangannya besar karena tidak sedikit jumlahnya, karena ada dua atau tiga juta anak sekolah. Artinya harus pemerintah menyediakan kursi untuk dua juta murid. Guru sekian, ruang kelas sekian.  Pendidikan nasional kita masih menghadapi tantangan yang tidak sedikit.” 
Karena itulah, investasi pendidikan di Indonesia sebenarnya masih pada memperbanyak akses pendidikan kepada anak usia sekolah, berbeda dengan negara-negara maju yang sudah selesai dalam soal akses dan infrastruktur, tinggal pengembangan mutunya. 

“Pendidikan Islam khususnya, sebagian besar masih pada pengembangan akses. Jadi untuk pengembangan mutu belum ideal, baik di perguruan atinggi atau pendidikan menengah.”

Beberapa jenis bantuan yang diberikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia diantaranya adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk inividu dan sejumlah program lainnya 

“Kita memiliki data madrasah yang roboh, yang perlu di rehab, tetapi, prolemnya kebutuhan dan ketersediaan anggaran belum match. Kita setiap tahun merehab ribuan ruang kelas, tetapi kebutuhannya puluhan ribu.” 

Kini Kemenag kami mengundang semua pihak yang berminat untuk membangun madrasah, “supaya tidak menimbulkan fitnah, kami tidak terima duitnya, kami kasih datanya saja. Anda mau membangun berapa, dimana, silahkan.”

Mengenai alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan, hal ini sangat berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Sayangnya, proporsi pembagiannya belum ideal antara pendidikan umum dan pendidikan Islam, meskipun trennya masih membaik. 

“Saya belum menganggap ideal dan ini masih perlu penyesuaian, dan terkait banyak hal, pendataan, manajemen tata kelola dan lainnya. Saya optimis, ke depan akan semakin bagus. Saya kira beberapa tahun terakhir, ,pendidikan Islam mendapat perhatian cukup bagus dari pemerintah, yang belum maksimal itu pesantren.  Karena pesantren pendidikan non formal, tidak sebanyak madrasah.” (mukafi niam)

Sabtu, 29 November 2014

Madrasah Jauh Lebih Siap Hadapi Kurikulum 2013

Buletin online Fk-Pontren
Sumber: Nu online

Jakarta, Kurikulum 2013 kini memang sedang mendapat kritikan luar biasa dari masyarakat, bahkan Menteri Pendidikan Anis Baswedan mengatakan kurikulum ini setengah matang.

Apa yang disampaikan Anis memang tidak salah karena pada 2013 diujicobakan di 6400 sekolah, tapi secara tergesa-gesa langsung dipaksakan penerapannya di 218 ribu sekolah di seluruh Indonesia pada 2014 ini. 

Kementerian Agama sendiri tidak mau ikut dengan skema tersebut. Pada 2013, Kemenag telah melatih 140 ribu guru madrasah. Direktur Pendidikan Madrasah Nur Kholis Setiawan mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan sebanyak 50 judul buku Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menjadi tanggung jawabnya dan sudah sampai di tangah guru dan murid untuk kelas kelas 1 dan 4 MI, kelas 7 Mts dan kelas 10 MA.

“Bahkan penyusunan rapor pun sudah kita tayangkan di web. Ini yang saya katakan lebih siap.” (mukafi niam)

Kamis, 27 November 2014

Pendidikan Karakter, Madrasah Jagonya

Buletin online Fk-Pontren
Sumber: Nu online

Jakarta, Ditengah-tengah ramainya perbincangan tentang pendidikan karakter, revolusi mental, akhlak, moral dan sejenisnya, termasuk dalam kurikulum 2013 tanpa banyak bicara sistem pendidikan madrasah menjadikan pendidikan karakter sebagai tujuan utama.

“Madrasah adalah sekolah umum berciri khas keagamaan atau keislaman dan ini bukan hanya ciri, tetapi ruh yang mampu mencetak generasi yang memiliki karakter. Kalau kurikulum 2013 mencirikan sebagai pendidikan karakter, ya masih kalah dengan pendidikan madrasah. Dari dulu juga begitu,” kata Nur Kholis Setiawan, direktur pendidikan madrasah Kementarian Agama di Jakarta, Selasa. 

Dengan pembekalan pendidikan karakter ini, ia yakin madrasah bukan hanya mampu melahirkan orang yang pinter, tetapi juga bener. “Kekurangan Indonesia kan di situ, banyak orang pinter, tapi tidak bener. Yang jual beli kasus perkara, kan doktor-doktor hukum. Yang ngrusak hutan ya doktor-doktor kehutanan. Yang ngrusak ekonomi Indonesia ya doktor-doktor ekonomi yang mengikuti liberalisme ekonomi itu,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini terjadi karena sistem pendidikan Indonesia belum mampu menyatukan antara ilmu dan pertanggungjawaban keilmuan. “Saya yakin madrasah mampu ke sana kalau kita tata dengan benar, kita pola dengan baik, lalu kita hadirkan program prioritas.” 

Sayangnya, masih banyak anggota masyarakat yang menganggap bahwa madrasah merupakan sekolah agama atau lembaga pendidikan agama yang belum menjadi pilihan tetapi alternatif setelah tidak diterima di sekolah favorit. Ia mengaku tidak mudah untuk menggeser persepsi ini karena masyarakat tidak bisa dipaksa, apalagi meminta mereka mengirimkan anaknya ke madrasah. 

“Yang bisa kita lakukan adalah membuktikan bahwa persepsi mereka salah, atau lebih bagusnya keliru bahwa madrasah masih dipersepsikan seperti itu,” tegasnya. 

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas madrasah adalah meningkatkan kehadiran negara melalui komitmen anggaran dan menata kelembagaan. Dari 72 ribu lembaga pendidikan madrasah yang ada di Indonesia, 91 persennya merupakan sekolah swasta yang membutuhkan banyak dukungan.
(mukafi niam)

Rabu, 26 November 2014

Selain Pandai, Pelajar Harus Berakhlak Baik

Buletin online Fk-Pontren
Nu online

Kepala Kemenag Jepara H Muhdi mengimbau pelajar supaya selain pandai, tapi juga berakhlak mulia. Pandai dengan belajar sementara akhlakul perlu dibiasakan. Witing tresno jalaran soko kulino.

“Berbuat baik bisa dilakukan karena kebiasaan. Semisal shalat jamaah bisa menjadi kebiasaan baik karena dibiasakan,” terangnya pada seminar bertajuk “Peran Pelajar sebagai Barometer Akhlak Bangsa” dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda dan pahlawan PC IPNU-IPPNU kabupaten Jepara menggelar di aula Gedung NU Jepara lantai 2, Senin (10/11) pagi.

Lelaki asal Boyolali ini menambahkan menjadi pemuda jangan sampai mudah terkena arus apalagi yang negatif.

Pembicara lain, Mustaqim Umar melanjutkan usia remaja 17-19 saat ini di Indonesia dengan jumlah terbanyak. Dengan begitu, menurut dia, masa depan bangsa tergantung pemudanya. “Jika akhlak pemudanya memble bangsa menjadi memble. Sebaliknya jika akhlak pemudanya baik bangsa menjadi baik pula,” terang Pak Mek, sapaan akrabnya.

Sebab itu, pegiat Kelompok Studi Sastra Jepara (KSSJ) ini mengimbau pelajar terus giat belajar. Pelajar NU yang mengagumi Gus Dur jangan hanya melihat di usia tuanya. “Tetapi Gus Dur saat masih remaja apa yang dilakukannya?” tanyanya pada peserta yang hadir.

Disamping giat belajar, pemuda kudu meneguhkan idealisme dan religiusitasnya. “Juga perlu belajar dari tokoh-tokoh berpengaruh di dunia,” sebutnya.

Dalam sebuah buku berisi tokoh berpengaruh di dunia menyebut Nabi Muhammad maka pelajar NU wajib mengakui. “Di Indonesia ada Bung Karno yang meneguhkan semangat keindonesiaan. Pelajar juga harus dari beliau,” imbuh Mustaqim.

Jokowi, ungkapnya juga bisa dijadikan panutan. Menurutnya presiden RI ke-7 ini menurutnya memang berbadan kurus namun cita-cita dan idenya menggerakkan bangsa sangat luar biasa. “Ia merupakan tipikal pekerja keras dan cepat tanggap,” akunya.

Karena itu pelajar NU harus belajar dan bekerja keras untuk menggapai cita-citanya setinggi langit. (Syaiful Mustaqim/Alawi)